You are currently browsing the category archive for the ‘puisi’ category.

Berpaling lebih mudah ketika kamu patah hati
Saat kenangan semakin memudar
Dan kota itu mulai gersang kehilangan pribadi
Yang dulu pernah mengisi hati

Lama-lama kabut dalam pikiran berganti
Kota yang dulu dirindukan
Sekarang hanya jadi Kota Wisata
Yang sekali boleh disinggahi

Terima kasih beribu untuk tiap cerita
Proses dan detik – detik yang boleh kulalui
Berlarian dalam nadi kehidupan
Yang telah lama kutinggali

Saat kota itu bukan buatmu lagi
Tak mengapa, kadang hidup harus berpaling
Tak mengapa, kali ini saatnya pergi
Dan menyimpan tiap kenangan rapi-rapi

Sampai jumpa di pertemuan lain hari
Sampai jumpa di saat yang dikehendaki kita bersama
Selamat, selamatlah kita semua!
Terima kasih untuk tiap cerita

Bekasi, Juni 2016
Untuk kotaku yang dulu kurindu selalu, saatnya ku move on!🙂

Di tengah keresahan zaman
Suaranya memanggil, berseru-seru
Di tengah kegundahan
Hati kecil diserbu: mana nyalimu!

Satu dua tiga, berderap langkah
Namun serong ke kiri
Empat lima…
Terjegal delusi kuasa dan materi

Satu dua tiga
Langkah pasti di awal cerita
Empat…
Dan terjerembab termakan realita

Kemana kaki ini harus membawa diri?
Angan dan cita terasa mulai membebani
Hati tak kuasa berdiam, namun tangan enggan
Darimana harus kumulai bagi bangsa ini?

Sayup suaraNya pelan pelan menghembusi hati
Memanggil tuk berpaling ke jalan yang
Belum pernah satu mili pun kukenal
Berharap tuk dijalani

Oh, langkah pertama,
Kemana harus kau kuempas pertama?

Bekasi, Mei 2016

Seujung silet menyayat hatiku
Saat kutahu
Kau tidak memanggilku
Dengan panggilan sayangmu

Kita sudah tak bersama
Namun tahukah kamu bahwa hatiku
Masih belum sanggup menerima
Buyarnya bayang-bayangmu

Ratusan kata dalam puluhan puisi
Yang dulu kutulis rapi
Untuk kau baca setelah menikah nanti
Sekarang hanya kata hampa menikam hati

Sekarang hadirmu perlahan pergi
Segenap kekuatan gravitasi
Membantu meruntuhkan hadirmu
Perlahan juga ikut mencabik hatiku

Berpisah tak pernah asik
Tetangga selalu kepo mengusik
Biarlah, rasa ini hanya aku yang mengerti
Dan mungkin dirimu yang terusik puisi ini

Bekasi, Mei 2016

Sudah jam empat sore,
Aku melambat.
Jenuh hariku,
Waktu berjalan merambat

Sudah jam empat sore,
Sudah duapuluh lima jam berlalu
Dari menit – menit yang kutahu
Akan mendewasakanku.

Sudah jam empat sore,
Waktu melambat.
Ketak – ketik keyboard semakin menganggu
Ingin pulang dan tenggelam dalam hening.

Sudah jam empat sore,
Biasanya waktu ini
Aku akan tersenyum dan berdendang
Karena kamu sudah pulang

Sudah jam empat sore,
Sudahlah….

Pasrahkan semua.

Jakarta, April 2016

Jari jemari bertautan,
Apakah jadi pertanda
Bahwa hubungan
Akan selamanya?

Detak jam dinding
Menertawakan kemudaan kita
Dan meruntuhkan idealisme
Yang telah lama dibangun

Sepoi angin di perjalanan
Memporak porandakan
Setiap mimpi yang susah payah
Meminta dibangun kembali

Aah…
Rasanya begitu lelah…

Hanya satu doa dan pinta
Pada Ia yang Esa
Biarlah semua berjalan
Sesuai kemauanNya

Puncak, Maret 2016

Nyaring hela nafasku bergelombang memasuki otakku. Satu – satu partikel udara melalui imagi yang kuharap dapat kulupakan. Satu – satunya sarana ku harus menerima semua, menganggapnya sebagai berkat yang turun satu persatu bagai bilur hujan sore itu.

Ceracas seruan adik cilik di bangku menerjang – nerjang, terasa menghibur sukma. Ah, bagaimana bisa manusia terlahir begitu sederhana? Lalu mereka diperam dalam kolam masalah, untuk menjadi matang dan nikmat disantap?

Satu – satu kuurai kekusutan benang di systema nervosa. Satu – satu pun aku mundur selangkah, tersadar bahwa terkadang segalanya perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas: bahwa semua lekuk kusut itu indah, dan tak perlu diluruskan.

Jakarta, April 2016

Terkadang aku hanya ingin dimiliki, tanpa intensi untuk memiliki. Terkadang aku hanya ingin mejadi seseorang yang dinanti, tanpa perlu menanti. Apabila aku bersembunyi di dalam kotak kesenangan dalam tempo semauku, aku berharap ada decak-decak khawatir terlontar dari kamu. Kala kulihat cemas di matamu, aku tahu, aku bahagia. Tidak, tidak berarti aku ingin kamu selalu cemas melihatku, tapi setitik bagian di hati ini tahu dan butuh untuk diingini secara berlebih. Ya kamu, sesosok yang kunanti kuharap menanti aku datang.

 

Saat waktu itu tiba…

Aku pasti bahagia.

 

Yogyakarta, 31 Juli 2014, di dalam kotak kesenangan

ketika terlalu sulit untuk berlari, teruslah berlari

ketika terlalu sulit untuk melompat, teruslah melompat

karena masa depan itu sungguh ada

dan harapan tidak pernah sia-sia

 

harapan adalah …

 

secercah pelita di tengah gelap

teruslah mencari sampai didapatnya

 

pelangi sehabis hujan

nantilah sampai gerimis enggan turun lagi

 

tawa seusai tangisan

karena seseorang pasti datang untuk mengambil permata hati

 

karena harapan tidak pernah sirna…

namun bertumbuh kembang, selamanya.

 

ya.

 

Malam tahun baru, 2012

Happy new year, all🙂

God Bless You

kalau Tuhanmu bukan TUHAN,
matilah engkau.

Jakarta, Januari 2012

Aku
Aku
Aku
Sayang pada-Nya

~Happy Valentine Day.
Jogjakarta, 14 feb 2011