Seujung silet menyayat hatiku
Saat kutahu
Kau tidak memanggilku
Dengan panggilan sayangmu

Kita sudah tak bersama
Namun tahukah kamu bahwa hatiku
Masih belum sanggup menerima
Buyarnya bayang-bayangmu

Ratusan kata dalam puluhan puisi
Yang dulu kutulis rapi
Untuk kau baca setelah menikah nanti
Sekarang hanya kata hampa menikam hati

Sekarang hadirmu perlahan pergi
Segenap kekuatan gravitasi
Membantu meruntuhkan hadirmu
Perlahan juga ikut mencabik hatiku

Berpisah tak pernah asik
Tetangga selalu kepo mengusik
Biarlah, rasa ini hanya aku yang mengerti
Dan mungkin dirimu yang terusik puisi ini

Bekasi, Mei 2016