Kala adalah penerang dunia
Minimal duniaku
Bagaimana jadinya bila
Kala sedang sendu?

Secangkir kopi gula dingin di siang hari
Biasanya jadi penghibur hati
Namun kala sendu mengubahnya
menjadi yang terpahit dari segala rasa

Tersadar aku dalam kelam hati
Ternyata begitu banyak yang kuperjuangkan
Hilang
Bagai debu tertiup angin padang

Malam – malam yang biasanya
Penuh dengan gelora,
mengejar yang tak terkejar di siang
Sekarang penuh tangis terpendam

Tersadar dalam pilu
Tergugu dalam bisu
Nalarku berpacu
Melawan jujurnya kenyataan

Ah! Sudahlah!
Kala Sendu pergilah sana!
Menghilanglah di lembah duka!
Biar tinggal diriku tak lagi merana!

Karena kekuatanku bukan dari diriku,
Namun Ia yang ada di dalam aku.

Jakarta, April 2016