Nyaring hela nafasku bergelombang memasuki otakku. Satu – satu partikel udara melalui imagi yang kuharap dapat kulupakan. Satu – satunya sarana ku harus menerima semua, menganggapnya sebagai berkat yang turun satu persatu bagai bilur hujan sore itu.

Ceracas seruan adik cilik di bangku menerjang – nerjang, terasa menghibur sukma. Ah, bagaimana bisa manusia terlahir begitu sederhana? Lalu mereka diperam dalam kolam masalah, untuk menjadi matang dan nikmat disantap?

Satu – satu kuurai kekusutan benang di systema nervosa. Satu – satu pun aku mundur selangkah, tersadar bahwa terkadang segalanya perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas: bahwa semua lekuk kusut itu indah, dan tak perlu diluruskan.

Jakarta, April 2016