Selamat malam, malam.

 

Kamu datang terlalu cepat hari ini. Aku masih rindu dengan siang yang bergelora, mematri terik di pagi hari, dan menanti kasih di saat subuh.

 

Apakah kamu rindu kepadaku, malam? Mari, tidur bersamaku malam ini. Aku ingin bercerita tentang kisah dan rindu yang terpaut menjadi satu. Mari,mari dengar dongengku malam ini untukmu, malam. Lalu jangan cepat kamu bangkit dari petiduran kita, jangan cepat kamu berganti menjadi subuh, pagi, lalu siang. Dan jangan cepat kamu kembali menghardik sore dari sisiku.

 

Selamat malam, malam.

 

Hari ini aku mau bersenandung tentang karya. Tentang cipta. Tentang tangan anak manusia yang tidak pernah berhenti bergerak mencipta karsa. Apakah arti semua? Lebih baik menari diantara desir angin padang pasir, tertawa diantara bulir padi yang menguning, menangis di ladang mawar yang sedang merekah, dan tertidur di petiduran kita ini.

 

Malam, malam, kamu belum lelap kan?

 

Manusia itu umpama raksasa emosi yang terangkum dalam sebuah noda daging yang fana. Hilang karsa, hilang semua. Berkilo-kilo meter uliran tinta pena tidak akan pernah bisa menggambarkan isi hati seorang anak manusia! Lebih baik kita menari diantara desir angin padang pasir, tertawa diantara bulir padi yang menguning, menangis di ladang mawar yang sedang merekah, dan tertidur di petiduran kita ini!

 

Malam, malam, kamu masih mendengarkanku kan?

 

Satu dua nada sumbang bukanlah petaka bagi sebuah simponiyang melantun dari bibir mungilmu. Eh, bibir mungil kita. Satu-dua nada sumbang adalah cemoohan bagi hidup yang ingin berjalan diantara utas rambut tanpa pernah jatuh!

 

Malam, malam, ayo kita tidur sekarang. Dan jangan terbangun sampai kamu puas dalam dekapanku. Malam, jangan cepat bangun! Ayo kita nikmati petiduran kita diantara angin padang pasir, bulir padi yang menguning, danladang mawar yang merekah!

 

Yogyakarta, Mei 2013