untuk mereka yang mati ditembak kepalanya sampai buyar karena menjadi penegak kebenaran.

 

Mak, mak, mak…

Mak, anak mau tanya. Bagaimana kalau anak jadi salah satu orang yang ditembak kepalanya sampai buyar karena menjadi penegak kebenaran? Mak, dulu mak selalu mengajarkan untuk anak selalu jujur terhadap tiap tidakan yang memperkosa kejujuran. Mak selalu mengajarkan untuk anak berbicara apa adanya meskipun salah, meskipun hasilnya anak selalu ditertawakan dan dibenci lewat apa yang anak katakan..

Mak, mak, mak…

Mak, anak belajar untuk selalu berkata-kata sesuai fakta. Mak ingat saat pak guru dulu bertanya siapa yang mencuri uang kas di kelas? Anak ingat betul mak, waktu itu si Oyong yang mencuri uang mak. Anak bilang ke pak guru kalau Oyong yang mengambil. Pulang-pulang, mak tau kan, anak babak belur ditimpuk dan digebuk teman-teman Oyong. Anak bingung, anak tidak mengerti. Tapi mak selalu bilang begini, “kejujuran itu mahal harganya. Niscaya suatu saat kejujuran itu akan mengupahi kamu dengan keselamatan.”

Mak,mak, mak…

Hari ini anak kembali merenungkan apa yang mak bilang tempo waktu itu. Mak, anak ragu, apa mak salah? Tidak ada keselamatan dalam kejujuran mak. Hari ini anak masuk bui karena anak jujur pada polisi tentang teman anak yang korupsi. Tapi anak lagi yang ditimpuk dan digebuk sampai berkembang biru mak. Mak, mak, mak? Mak, mungkin zaman mak hidup dulu adalah zaman batu, saat kebutuhan dapat dipenuhi hanya dengan sekeranjang makanan dan selembar cawat di pinggang. Tapi mak, zaman sekarang anak TK saja sudah pegang handphone mak. Mungkin ibuk bapaknya pegang apa, anak tidak terbayang.

Mak,

Mak dengar? Nanti kalau anak jadi salah satu orang yang ditembak kepalanya sampai buyar, apakah mak masih akan tersenyum kepada anak dan berkata “kejujuran itu mahal harganya. Niscaya suatu saat kejujuran itu akan mengupahi kamu dengan keselamatan?”

 

 

Sebuah perenungan singkat

Yogyakarta,akhir Mei 2013