Kerling mata itu tak pernah aku lupa. Suatu bentuk rasa yang dimiliki anak manusia terbersit indah dari sudut matanya. Sudut mata yang bersudut lancip. Sudut mata yang beberapa kali dialiri tetesan eksresi glandula lakrimalis, tetesan ekspresi jiwa anak manusia.

Sosoknya menyerupai sekuntum mawar yang mekar indah. Terbalut dalam pesona merah darah, lembut mempesona jiwa, namun hidup di atas duri-duri yang tajam. Memetiknya tidak sanggup, terlalu menyakitkan.

Ah, mengapa kamu begitu indah sayang? Namun tak tergapai?

Lagi-lagi pancaran sinar matanya memikat saraf-saraf sensorisku. Adrenalin memuncak, jantung berdetak cepat. Senyum terbentuk di bibirnya yang merah merekah, oh sayang!

Inikah yang namanya gelora jiwa muda? Resah namun nikmat, sakit namun candu.

Sepasang kaki itu melangkah membawa sosok itu mendekat. Hadirnya memancarkan keindahan dan kekuatan yang berpadu dalam satu contoh ciptaan Tuhan : dia.

Ah!