Karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! (Kidung Agung 8 : 6)

Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (Mazmur 73 : 26)

“Serang! Serang!”

Aku berteriak, berseru ke arah musuh. Berlari ke hadapan si pendakwa, dan kutebas kepalanya. Lalu matilah dia dan jatuh terkapar.

Sorak sorai, sorak sorai. Menang! Menang! Panji-panji kemenangan berkibar, sangkakala berseru panjang! Musuh berhamburan! Menang! Menang! Sambut Raja Segala Raja!

Ah…

Aku pulang ke rumah. Dalam keriaan yang perlahan berubah menjadi ketenangan, kedamaian. Dalam keriaan karena boleh menyelesaikan tugas buat Raja. Tubuhku lebam, tubuhku berteriak, “Kasihani aku!” Tetapi, maaf, jiwaku tidak pernah akan berhenti untuk terus bekerja dan berperang buat Dia, sampai Kerajaan-Nya ditegakkan di muka bumi.

Aku pulang, Pa. Ke hadirat-Mu, oh Papa tersayang. Ini anak-Mu mau bercerita, ada segumpal kata-kata yang menunggu untuk mengalir lepas. Aku mau bercerita, Pa. Ayo kita bercerita di taman yang cantik itu, Pa. Ada angin sejuk yang mengalir lembut, rasanya seluruh lelahku hilang. Ada bunga yang mekar, cantik! Aku akan bercerita sambil duduk di bawah kaki-Mu. Sambil memeluk lutut-Mu yang selalu hangat.

Aku pulang, Pa. Dan Engkau pasti sudah berdiri di depan pintu, dengan tangan terbuka lebar. Sambil berlari Engkau menyambutku. Dan dipeluknya aku. Ah, Papa, aku sungguh rindu. Ada hangat kasih-Mu mengalir menyegarkan kembali tubuhku. Ayo, aku ingin dengar ceritamu, nak. Itu kata Papa. Ayo kita duduk di taman, bersenda gurau. Aku bercerita dengan semangat! Hore! Hore! Lalu mungkin aku akan menangis, aku lihat banyak hal yang menyedihkan. Mungkin Papa yang menangis nanti, Papa tahu banyak hal yang menyedihkan. Biasanya Papa juga menegur aku kalau ternyata ada hal yang tidak tepat yang tadi aku lakukan. Terima kasih, Pa. Kebaikan-Mu untuk selalu mengajarku. Lalu Papa akan membelai kepalaku, sebuah belai yang selalu kurindukan. Papa pasti bilang, “Aku sayang kamu, nak.” Iya Pa! Aku juga sayang Papa! Selanjutnya, aku tahu, pasti aku tertidur dengan lelap di pangkuan Papa. Ah, jadi malu…

Izinkan aku, Pa, izinkan aku terus berperang bagi Sang Raja. Izinkan aku untuk terus mendapat didikan dari Sang Raja. Izinkan aku menjadi tentara-Nya. Izinkan aku berlari pada panggilan-Nya. Karena adalah kerinduanku untuk menyenangkan hati-Nya dan menjadi alat penggenapan janji-Nya. Tidak pernah mudah, Pa, aku mengerti itu. Tapi Pa, aku jatuh cinta pada Sang Raja. Aku ingin mengabdi kepada-Nya, Pa. Seumur hidupku.

Jadi, izinkan aku, ya, Pa?

Lalu aku tahu Papa tertawa, memelukku hangat…

(Itu artinya : boleh. Asik!)

Yogyakarta, April 2011