Aku direbutnya dari tangan musuh ketika aku masih anak-anak. Ketika aku masih rapuh. Ketika aku masih mencari peluk, sayang, dan cinta. Ketika aku menangis ketakutan mendengar suara-suara menakutkan dari balik dinding rumahku. Melihat tangisan dan tubuh manusia yang bercerai-berai. Sebuah tempat dimana iblis tidak takut untuk meminum darah korbannya, dan memakan dagingnya sampai ke tulang.
Perang… perang… perang tiada akhir…
Dipeluknya aku oleh dia, direngkuhnya aku yang rapuh dari medan perang. Dibawanya aku ke sebuah rumah mungil penuh cinta, dimana ada sebuah taman yang anginnya sejuk. Pohon-pohon rindang meninabobokan aku di kala penat. Buah-buahan selalu siap untuk dimakan. Mata air selalu mengalir dengan lembut, membersihkan aku yang penuh noda.
Lalu dia mendidikku untuk menjadi prajurit. Prajurit yang perkasa. Bukan lagi anak kecil yang berlari dan menangis ketakutan melihat musuh. Dia yang berkata keras ketika aku salah, dan yang memuji dengan lembut ketika aku benar. Dia mengajarku menjadi prajurit yang tanpa takut melawan tiap halangan yang ada. Prajurit yang penuh hikmat. Prajurit yang tidak sombong. Bukan prajurit yang bodoh. Bukan prajurit yang penuh amarah.
Perang… perang… medan perang! Akan kumenangkan!
Selalu kuingat dia yang menyelamatkanku, maka hidup semangat dalam jiwaku ketika aku tertekan. Kuingat dia, maka aku tahu bahwa hidupku hanya untuk menyenangkan dia. Melihatnya tersenyum adalah kebahagiaan bagiku. Mengabdi padanya adalah tujuan hidupku.
… karena aku ada karena dia yang menyelamatkanku.
Tentara adalah panggilanku. Sekarang waktuku menjalankan tugas. Merengkuh jiwa-jiwa rapuh. Yang dulu itulah aku.

Yogyakarta, Januari 2010