Ini siang bolong. Panas. Terik. Dan aku kesal dengan otakku yang lemot sekali hari ini. padahal hanya soal sederhana dengan penyelesaian sederhana. Tapi aku tidak bisa! Huh.
Aku keluar kamar kosku yang kecil mungil. Mencari sejuk angin siang bolong Kota Pelajar. Aah, biar terik tapi untung ada angin sepoi-sepoi. Sejuk. Dingin kepalaku, aku kembali masuk ke dunia impian kesayanganku. Dunia impian yang penuh dengan buku-buku setebal 5 senti, bahasa-bahasa Swahili yang bertebaran dimana-mana, kertas-kertas laporan praktikum, dan selebaran-selebaran beasiswa yang kutempel di dinding sebagai obat semangat.
Ah, ujian, ujian. Besok terakhir. Aku tahu. tapi justru karena aku tahu besok itu ujian terakhir, lemas sudah menguap semangatku. Hahaha! Sindrom hari terakhir ujian!
Kulirik layar laptop yang sejak kemarin menyala. Belajar. Tidak lupa bermain juga. Nyalakan MSN, kamu butuh bergaul, sayang, ucapku pada diri sendiri. Intuisi mengatakan ya, maka aku online. Iseng.
Tapi si iseng ternyata sedang cukup iseng untuk membawa aku pada satu nama yang selalu ingin kulupakan. Notification berbunyi, mencuat satu nama di pojokan layar. Namanya. Hanya nama. Nama yang selalu ingin kulempar jauh-jauh masuk ke pojokan lemariku. Sudah, sudah terbuang sebagian. Sekarang bekasnya menjadi lubang di hatiku. Miris! Dan karena itu aku harus menjadi orang paling tegar. Mengapa? Karena aku tidak akan pernah menangis hanya untuk cinta yang pergi.
Aku marah pada diri sendiri. Merasa bodoh. Merasa lucu. dan aku tertawa miris. Mirip tangis. Hahaha! Coba aku bukan aku yang begini, mungkin dia masih jadi milikku. Mungkin kita masih akan bertegur sapa lewat cinta. Mungkin aku akan rajin menitip salam pada bintang yang cemburu. Dan kepada angin kubisikkan salam ke kota tempat dia tinggal. Dan keesokan harinya ketika aku terbangun dari tidurku, mentari ceria memanggilku, ternyata ada pesan baru berbunyi aku sayang kamu dari dia.
Mungkin…mungkin…
aku tersenyum. Dan kumatikan messengerku. Kembali ke bahan kuliah. Kembali ke dunia anganku. Ke tumpukan buku, ke lembaran soal. Ke ribuan nama-nama latin yang tersebar di dalam kamarku.
Kembali ke realita. Kembali ke tempat dimana aku sekarang berada.
Dan aku tersenyum lagi. Kali ini senyum puas bahagia.

Yogyakarta, Oktober 2010