-untuk Astika

Aku tidak pandai merangkai kata-kata. Tidak pernah sekalipun. Merayu dan meminta pun pasti selalu membawaku ke sebuah latihan yang lama di depan kaca. Memalukan. Kalau bisa, aku ingin kita tidak usah berbicara. Cukup ada dirimu di sampingku. Aku akan membawamu ke Padang Bintang, sehingga kita dapat merayakan kisah cinta kita bersama ribuan kecantikan yang tersebar di kelamnya kehidupan. Tidak usah ada suara, karena aku yang egois ini pasti akan meminta bantuan langit untuk membungkam suaramu. Walau dalam diam, aku tidak ragu untuk mencintaimu, karena dalam diammu kudengar hening yang berteriak bahwa kamu mencintaiku.

Kesibukan tidak menyurutkan gairah hidupmu. Tak pernah sekali aku mendengar kamu mengeluh tentang hidup yang tak pernah mau dibuat pasti. Tantangan adalah energimu, dan aku selalu senang melihat mata itu : mata yang membara terbakar semangat hidup. Dan kamu tidak pernah pelit untuk membagi kelebihanmu itu. Bahkan sesungging senyummu mampu mengobati luka hatiku. Setiap kali kulihat parasmu dari kejauhan, hatiku melonjak riang. Ingin aku berlari riang ke arahmu seperti saat aku masih bocah dulu, tetapi aku tahu hal itu malah akan menakutimu.

Aku akan selalu rindu saat-saat kita berdua, bersama-sama kita lalui hari-hari dengan matahari yang selalu bersinar terik di kota ini. Bergulat dengan tugas dan ketegangan. Terkadang kamu meledak, meminta bumi untuk berotasi lebih lama. Dua puluh empat jam sehari sering tidak cukup untukmu. Dari situ aku sadar, perlahan tangan yang tidak kelihatan mengambil harta terbesar milik kita : waktu. Perlahan kita menjadi tua, juga dewasa. Dalam berbagai hal, begitu juga dalam mencinta.

Aku tidak pernah mengerti bahwa ada rasa yang dinamakan : cinta, tetapi dengan mantap aku berkata bahwa aku mencintaimu.

Mungkin kamu bukan gadis tercantik di dunia, tetapi bagiku segala lekuk yang ada di tubuhmu adalah kecantikan sejati. Kamu mungkin bukan yang terbaik untuk dunia, tetapi aku yakin bahwa kamu adalah yang terbaik untukku.

Yakinlah padaku, aku mencintaimu sepenuh jiwaku. Tidakkah kamu melihat itu? Maaf, aku tidak berjanji akan membuatkan seribu candi, atau mengambil kala untukmu, karena aku yakin tidak akan dapat menepati janji itu. Tetapi aku akan berjanji satu hal padamu : aku akan menjadi yang terbaik hanya untukmu.

Yogyakarta, Agustus 2010