Aku mencari sedikit saja angin surgawi untuk aku bernapas di dalam kepenatan hari yang terasa tidak mau berhenci mencaci mencabik paru-paru jiwa si perangkai kata yang hampir mati tercekik di dalam ragaku yang juga setengah mati mencari cara agar jiwa yang menjadi jiwanya juga tidak pergi menghilang di telan bumi.

Aku mendengar denting piano yang berdengung dengan indah dan sedih, indah dan bahagia, indah dan romantis, tetapi tetap saja jiwanya tidak pulih dari sakitnya yang membuat kata-kata yang dirangkai menjadi tanpa makna dan aneh sama sekali.

Aku membaca sajak-sajak yang ditulis oleh penulis terhebat, yang memenangkan ntah berapa banyak penghargaan, ntah berapa banyak jiwa yang terpukau karenanya, tetapi itu semua hanya membawa pada keterpurukan atas sekaratnya jiwa perangkai kata dalam raganya.

Dan lalu ia menangis meraung dalam kemarahan kesedihan ketakutan akan jiwa itu.

Lalu ternyata jiwanya malah semakin mati.

Jakarta, Juni 2010