Aku lupa berapa lama aku merindukanmu. Menginginkan kamu untuk hadir di sampingku. Mengharapkan kau ada ketika aku sedang ketakutan di dalam gelap. Ingin memelukmu saat aku merasa sedih. Berbagi kebahagiaan denganmu. Menikmati segelas teh hangat di depan rumahku bersama kamu. Naik motor kamu malam-malam untuk sekadar cari angin. Ceramahmu saat nilai-nilaiku jelek.

Aku bohong kalau aku bilang tidak kangen padamu.

Terakhir percakapan kita adalah mengenai cita-cita saat aku lulus SMA nanti.

“Aku ingin menikah dengan mu.” Jawabanku pendek dan jelas. Wajahmu memerah, tapi kamu malah seperti nenek-nenek yang hobi berpesan pada cucunya.

“Kamu harus sekolah! Lagipula kerjaanku belum menjanjikan untuk menafkahi sebuah keluarga!”

“Tidak,” jawabku, “Aku hanya ingin hidup bersamamu, selamanya.”

Dia menarik nafas dalam, tampak bingung bagaimana harus menjawabku. Aku merasa menang. Yes!
Tapi ternyata dia malah memelukku dengan hangat setelah itu.

“Kamu jangan begitu…,” ucapnya lemah, “kalau kamu tidak menyelesaikan sekolahmu dulu, sampai mati aku tidak akan bisa memaafkan diriku…”

Aku mengehela nafas di dadanya yang naik turun.

“Nanti kalau aku sudah siap, aku akan menikahimu. Aku janji”

Aku mengangkat kepala, dan senyumku mengembang.

“Aku cinta kamu”

Aku hanya tersenyum. Memeluknya saja membuatku bahagia.

Tapi sekarang, membayangkan wajahnya saja sudah membuatku menangis.

Karena aku tahu kalau kisah ini tak bisa berlanjut.

Karena sore tadi dia mati.

Jakarta, Juni 2010