Biar hitam yang menggenangi hati mencari barang setetes jawab atas kelamnya,
Mungkin aku akan lama termenung dalam hening yang merindukan suara,
Biar akalku menyelami hati yang mungkin lebih dalam dari palung dan lebih luas dari samudra,
Mataku terkatup dan aku akan terjatuh dalam lelap sehingga filsuf Mimpi jawab semua tanya.

Aku ingin untaian kata ini abadi,
Membentuk delta di sungai jiwa,
Mengendap terkenang dalam ribaan diri,
Angkasa pun akan terkejut melihat ciptaan jiwa manusia.

Angin pun bersedih karena harus bergulat dalam ketidakpastian,
Bentuk dan rasa yang tercipta tak pernah mutlak sama,
Dan jiwaku yang mengharapkan Jawab akan segala Tanya,
Mungkinkah sang Hampa mau menjawab semua?

Jadi sekarang aku menenggelamkan diri
Ke dalam palung yang terdalam
Mengasingkan diri
Ke dalam hutan yang terisolasi

Memohon agar sang Hampa mau datang padaku dan menjawab semua.

Tapi sampai tadi aku mati,
Hampa yang Angkuh tak pernah datang, kemari.

Jakarta, Juni 2010