Tak akan lagi amarah
membuncah dari ragaku,
namun jangan harap maafku
kan kuberi padamu,
(apalagi bila kau tetap jadi anjing yang angkuh).

Aku hanya akan terdiam,
namun serapah takkan pernah
terhenti terapal dari mulut jiwaku.

jiwaku akan selalu tidak mau
berdamai dengan binatang macam dirimu,
jalang berotak udang,
berjiwa tak lebih dari curut
yang hanya bisa mencuri perhatian
dengan laku goblogmu.

amarahku tak akan pernah tertakuk meratap,
karena semua yang telah kau buat
akan makin mengukuhkannya,
bahkan bila ratap tangis keluar dari bibir bergincumu
yang dulu (bahkan masih) berbisa,
bisa yang selalu ingin membunuhku.

Takkan pernah aku puas membencimu,
karena kau telah merobek hatiku,
dan luka yang mencacati ini,
menyisakan kepedihan yang tak pernah hilang.

Huh, kau pikir maaf bisa menyembuhkanku?

Jakarta, 29 September 2009