Aku menemukan aku yang lain yang ada di dalam diriku.

Aku terkaget pada aku yang mengaku sebagai aku yang lain itu,

karena aku yang lain itu mampu mencipta laku melawan laku ku.

Aku tidak mungkin marah, tapi aku yang mengaku sebagai aku bahkan dengan kejamnya membunuh perasaan cinta.

Aku tidak tega berbuat kejam pada orang disekitarku, tapi aku yang mengaku sebagai aku bahkan berani-beraninya menjorokkan teman-temanku pada jurang yang dibuat oleh aku yang lain itu sendiri, membawa teman-temanku pada lubang kelam yang tak mampu aku cipta

Aku tidak percaya pada kemampuanku sendiri, tapi aku yang kurasa bukan aku itu malah seperti narsicus yang akhirnya mati di kolam karena mengagumi wajahku sendiri

Aku tidak mungkin bisa melukiskan tiap rasa pada manusia, namun aku yang ada di dalam aku itu malah mampu menulis dan membaca makna rasa pada manusia.

Aku merasa bahwa karib saudaraku menyayangi aku, namun ditampiknya sayang itu oleh aku yang mengaku-ngaku sebagai aku itu.

Aku adalah aku yang selalu ceria, namun aku yang kurasa bukan aku malah meredupkannya dengan menjadi aku yang murung selalu.

Aku merasa bahwa aku yang bukan aku itu sebetulnya tidak ada, namun aku yang bukan aku sangat yakin dia ada di dunia, mengambil separuh Hidupku untuk hidupnya, si aku yang mengaku sebagai diriku.

Jakarta, 15 September 2009