Peluh berderai
Kelam memecut
Nadi berdenyut
Pikiran bersemut

Malam mengelam
Hati kecut
Mata menyala
Merana mencari cahaya

Kata hati,
Ada apa ini?
Terlelap ku tak mampu
Terjaga apa lagi

Insomnia,
Mengapa kau datang tetiba?

Bekasi, April 2016

Advertisements

Saturday, May 6, 2017

10:07 AM

Dik,
Sering memang tak seindah surga
Apa yang kau inginkan dan impikan
Menghianati duniamu

Dik,
Aku pun tak berani berkata
Takut komentar hanya sekedar retorika
Teori tak berharga semata

Kerja keras kutahu,
Kerja cerdas kuberusaha berlaku
Berdoa ku hampir tak putus
Tapi berhasil ku belun kenal

Visiku ada
Mencapainya tak pernah mudah
Ah siapalah aku ini
Hanya semangat yang kupunya

St. Pondok Cina, Mei 2017

halo, kamu yang disitu. kamu tidak akan pernah mengenalku, tetapi aku sangat mengenalmu. sosokmu yang menggunakan kemeja dan celana bahan, kuno kata teman-temanku. kamu yang terduduk kikuk sendirian. kamu pemalu, aku tahu itu. hobimu, teman-teman sekolahmu, makanan favoritmu, warna favoritmu, lagu kesukaanmu, buku yang sedang kamu baca, aku tahu. wajahmu ketika tertidur, tertawa, berpikir, bersedih, aku hafal mati.
kepada siapa kamu memberikan separuh jiwamu pun aku tahu.
aku tahu bukan padaku kamu membaginya.
ironi, padahal aku sudah jatuh hati kepadamu. dengan polos aku mencungkil sebagian hatiku untukmu. mengiris perlahan. membagi pelan-pelan supaya sama rata. sakit, kamu tahu kan? kamu juga dulu membagi hatimu dengan cara yang sama, tetapi bedanya kamu mendapat gantinya plus senyum gadis itu sebagai obat penawar sakit.
tetapi tidak denganku. memandangi punggungmu yang menjauh malah menambah parah lukaku. dan hatiku yang membusuk kubuang ke tempat sampah. biar saja bolong sebagian, sakit dan perih akan kutahan.
ya sudahlah.

~ terima kasih untuk inspirasinya 🙂

Yogyakarta, November 2010

Di dalam deru aku akan terus bersaksi. Dan akan terus menjadi batu karang yang berdiri. Di atas badai aku terbang. Dan akan terus menjadi rajawali, menantang langit yang begitu damai untuk dikuasai.

 

Aku rindu satu masa saat kita berbincang berdua. Kamu dan aku. Dalam doa aku percaya kamu menjagaiku. Bersama Tuhan kita yang Esa. Dan jangan lupa, malaikat-malaikatNya. Ceritaku, kamu punya. Ceritamu, aku punya, sedikit. Pelukmu, aku kenal. Bahkan wangi rambut ikalmu, aku juga hafal.

Tapi waktu tidak selalu sama. Ada saatnya buluh yang patah untuk ditegakkan kembali. Ada saatnya kaki yang goyah untuk tegak kembali. Dan sama seperti aku, ada saatnya untuk berpisah dengan kamu. Dulu kamu yang menggendongku dalam seru sedanmu, tapi sekarang, kamu tahu sudah waktunya aku untuk melompat dari gendongan dan berlari bersama Bapa.

Dibalik semua kisah yang pernah kita lalui, jangan pernah lupa padaku. Aku juga akan berusaha untuk terus mengingat kamu. Dalam mimpi dan kisah lalu, saat kita mengaruhi Kota Tuhan bersama, saat kita berdoa dalam telekung yang dalam, saat kita menari di atas gelombang, jangan pernah lupakan.

Sampai satu saat kita boleh mengabdi selamanya pada Raja segala raja, ayo kita menjadi batu karang yang berdiri tegak.

 

Buat E

Jangan nangis terus yaa

Kerling mata itu tak pernah aku lupa. Suatu bentuk rasa yang dimiliki anak manusia terbersit indah dari sudut matanya. Sudut mata yang bersudut lancip. Sudut mata yang beberapa kali dialiri tetesan eksresi glandula lakrimalis, tetesan ekspresi jiwa anak manusia.

Sosoknya menyerupai sekuntum mawar yang mekar indah. Terbalut dalam pesona merah darah, lembut mempesona jiwa, namun hidup di atas duri-duri yang tajam. Memetiknya tidak sanggup, terlalu menyakitkan.

Ah, mengapa kamu begitu indah sayang? Namun tak tergapai?

Lagi-lagi pancaran sinar matanya memikat saraf-saraf sensorisku. Adrenalin memuncak, jantung berdetak cepat. Senyum terbentuk di bibirnya yang merah merekah, oh sayang!

Inikah yang namanya gelora jiwa muda? Resah namun nikmat, sakit namun candu.

Sepasang kaki itu melangkah membawa sosok itu mendekat. Hadirnya memancarkan keindahan dan kekuatan yang berpadu dalam satu contoh ciptaan Tuhan : dia.

Ah!

Ada dunia yang terlalu indah untuk diingkari. Berjalan dalam sepi terkadang biasa saja, namun seringkali melukai diri. Apa yang kuinginkan dari diri ini sendiri? Kadang ku bertanya, namun bisa saja semua hanya emosi masa muda semata.

Begini begitu, semua salah.

Terkadang aku begitu melankolis dalam setiap retorika yang kuhadapi. Tergugu sendiri di malam yang sepi. Namun entah, apa aku gila atau apa, aku menikmati setiap desir angin yang mengiris hati. Luka adalah pendidikan terbaik yang boleh kurasa, dan tawa adalah obat dari segalanya.

Begini begitu, aku juga manusia.

Terlalu dalam kadang aku mengingini, akhirnya aku sadar tak semua perlu digenggam. Tiada yang abadi, jadi aku akan berjalan mencari keabadian. Dimana ada bergelas-gelas kopi yang dapat kutenggak bersama Pribadi yang kusukai. Dan aku akan selamanya bahagia bersamaNya, tepat di dalam hatiNya.

Begini, aku hanya kumpulan debu.

 

Bekasi, Desember 2016

Berpaling lebih mudah ketika kamu patah hati
Saat kenangan semakin memudar
Dan kota itu mulai gersang kehilangan pribadi
Yang dulu pernah mengisi hati

Lama-lama kabut dalam pikiran berganti
Kota yang dulu dirindukan
Sekarang hanya jadi Kota Wisata
Yang sekali boleh disinggahi

Terima kasih beribu untuk tiap cerita
Proses dan detik – detik yang boleh kulalui
Berlarian dalam nadi kehidupan
Yang telah lama kutinggali

Saat kota itu bukan buatmu lagi
Tak mengapa, kadang hidup harus berpaling
Tak mengapa, kali ini saatnya pergi
Dan menyimpan tiap kenangan rapi-rapi

Sampai jumpa di pertemuan lain hari
Sampai jumpa di saat yang dikehendaki kita bersama
Selamat, selamatlah kita semua!
Terima kasih untuk tiap cerita

Bekasi, Juni 2016
Untuk kotaku yang dulu kurindu selalu, saatnya ku move on! 🙂

Aku terpikat pada makna dan kata
Yang bebas bersuara dalam diamnya
Sama seperti aku terpikat padamu
Yang mampu bercericau dalam bisu

Wahai, anak – anak jalanan
Dalam malam kalian mengigau
Berharap akan masa depan kan kemilau
Walau kenyataan bagai mendung hujan

Lampu – lampu jalanan tak lagi terpandang
Kerlap – kerlipnya tak lagi memukau
Hasrat lelah bergeragap mencari surau
Meregang sisa hari yang lelah berdendang

Aku terpikat pada sajak dan puisi
Yang bebas berbicara dalam sunyi sepi
Sama seperti aku terpikat pada sinar matamu
Mengandung badai dalam teduh yang pilu

-tuk seseorang yang hanya ada di khayal, kapan kutemui?

Bekasi, Mei 2016

Di tengah keresahan zaman
Suaranya memanggil, berseru-seru
Di tengah kegundahan
Hati kecil diserbu: mana nyalimu!

Satu dua tiga, berderap langkah
Namun serong ke kiri
Empat lima…
Terjegal delusi kuasa dan materi

Satu dua tiga
Langkah pasti di awal cerita
Empat…
Dan terjerembab termakan realita

Kemana kaki ini harus membawa diri?
Angan dan cita terasa mulai membebani
Hati tak kuasa berdiam, namun tangan enggan
Darimana harus kumulai bagi bangsa ini?

Sayup suaraNya pelan pelan menghembusi hati
Memanggil tuk berpaling ke jalan yang
Belum pernah satu mili pun kukenal
Berharap tuk dijalani

Oh, langkah pertama,
Kemana harus kau kuempas pertama?

Bekasi, Mei 2016

Seujung silet menyayat hatiku
Saat kutahu
Kau tidak memanggilku
Dengan panggilan sayangmu

Kita sudah tak bersama
Namun tahukah kamu bahwa hatiku
Masih belum sanggup menerima
Buyarnya bayang-bayangmu

Ratusan kata dalam puluhan puisi
Yang dulu kutulis rapi
Untuk kau baca setelah menikah nanti
Sekarang hanya kata hampa menikam hati

Sekarang hadirmu perlahan pergi
Segenap kekuatan gravitasi
Membantu meruntuhkan hadirmu
Perlahan juga ikut mencabik hatiku

Berpisah tak pernah asik
Tetangga selalu kepo mengusik
Biarlah, rasa ini hanya aku yang mengerti
Dan mungkin dirimu yang terusik puisi ini

Bekasi, Mei 2016

%d bloggers like this: