Ada dunia yang terlalu indah untuk diingkari. Berjalan dalam sepi terkadang biasa saja, namun seringkali melukai diri. Apa yang kuinginkan dari diri ini sendiri? Kadang ku bertanya, namun bisa saja semua hanya emosi masa muda semata.

Begini begitu, semua salah.

Terkadang aku begitu melankolis dalam setiap retorika yang kuhadapi. Tergugu sendiri di malam yang sepi. Namun entah, apa aku gila atau apa, aku menikmati setiap desir angin yang mengiris hati. Luka adalah pendidikan terbaik yang boleh kurasa, dan tawa adalah obat dari segalanya.

Begini begitu, aku juga manusia.

Terlalu dalam kadang aku mengingini, akhirnya aku sadar tak semua perlu digenggam. Tiada yang abadi, jadi aku akan berjalan mencari keabadian. Dimana ada bergelas-gelas kopi yang dapat kutenggak bersama Pribadi yang kusukai. Dan aku akan selamanya bahagia bersamaNya, tepat di dalam hatiNya.

Begini, aku hanya kumpulan debu.

 

Bekasi, Desember 2016

Berpaling lebih mudah ketika kamu patah hati
Saat kenangan semakin memudar
Dan kota itu mulai gersang kehilangan pribadi
Yang dulu pernah mengisi hati

Lama-lama kabut dalam pikiran berganti
Kota yang dulu dirindukan
Sekarang hanya jadi Kota Wisata
Yang sekali boleh disinggahi

Terima kasih beribu untuk tiap cerita
Proses dan detik – detik yang boleh kulalui
Berlarian dalam nadi kehidupan
Yang telah lama kutinggali

Saat kota itu bukan buatmu lagi
Tak mengapa, kadang hidup harus berpaling
Tak mengapa, kali ini saatnya pergi
Dan menyimpan tiap kenangan rapi-rapi

Sampai jumpa di pertemuan lain hari
Sampai jumpa di saat yang dikehendaki kita bersama
Selamat, selamatlah kita semua!
Terima kasih untuk tiap cerita

Bekasi, Juni 2016
Untuk kotaku yang dulu kurindu selalu, saatnya ku move on!🙂

Aku terpikat pada makna dan kata
Yang bebas bersuara dalam diamnya
Sama seperti aku terpikat padamu
Yang mampu bercericau dalam bisu

Wahai, anak – anak jalanan
Dalam malam kalian mengigau
Berharap akan masa depan kan kemilau
Walau kenyataan bagai mendung hujan

Lampu – lampu jalanan tak lagi terpandang
Kerlap – kerlipnya tak lagi memukau
Hasrat lelah bergeragap mencari surau
Meregang sisa hari yang lelah berdendang

Aku terpikat pada sajak dan puisi
Yang bebas berbicara dalam sunyi sepi
Sama seperti aku terpikat pada sinar matamu
Mengandung badai dalam teduh yang pilu

-tuk seseorang yang hanya ada di khayal, kapan kutemui?

Bekasi, Mei 2016

Di tengah keresahan zaman
Suaranya memanggil, berseru-seru
Di tengah kegundahan
Hati kecil diserbu: mana nyalimu!

Satu dua tiga, berderap langkah
Namun serong ke kiri
Empat lima…
Terjegal delusi kuasa dan materi

Satu dua tiga
Langkah pasti di awal cerita
Empat…
Dan terjerembab termakan realita

Kemana kaki ini harus membawa diri?
Angan dan cita terasa mulai membebani
Hati tak kuasa berdiam, namun tangan enggan
Darimana harus kumulai bagi bangsa ini?

Sayup suaraNya pelan pelan menghembusi hati
Memanggil tuk berpaling ke jalan yang
Belum pernah satu mili pun kukenal
Berharap tuk dijalani

Oh, langkah pertama,
Kemana harus kau kuempas pertama?

Bekasi, Mei 2016

Seujung silet menyayat hatiku
Saat kutahu
Kau tidak memanggilku
Dengan panggilan sayangmu

Kita sudah tak bersama
Namun tahukah kamu bahwa hatiku
Masih belum sanggup menerima
Buyarnya bayang-bayangmu

Ratusan kata dalam puluhan puisi
Yang dulu kutulis rapi
Untuk kau baca setelah menikah nanti
Sekarang hanya kata hampa menikam hati

Sekarang hadirmu perlahan pergi
Segenap kekuatan gravitasi
Membantu meruntuhkan hadirmu
Perlahan juga ikut mencabik hatiku

Berpisah tak pernah asik
Tetangga selalu kepo mengusik
Biarlah, rasa ini hanya aku yang mengerti
Dan mungkin dirimu yang terusik puisi ini

Bekasi, Mei 2016

Seperti hempas hujan di tengah
Gersangnya kota Jakarta
Dua tiga pesan darimu cukup
Untuk membuatku tersenyum di derai hujan

Masih 6 – 8 pekan lagi
Kekang waktu boleh memberi
Kebebasan untuk kita menari
Dan bercerita tentang masa yang lewat

Meski hanya sekedar pesan,
Ah tak mengapa
Rinduku mulai berkembang
Dan menanti saat kita berjumpa

Untuk Bram dan Noni

Jakarta, Mei 2016

Kala adalah penerang dunia
Minimal duniaku
Bagaimana jadinya bila
Kala sedang sendu?

Secangkir kopi gula dingin di siang hari
Biasanya jadi penghibur hati
Namun kala sendu mengubahnya
menjadi yang terpahit dari segala rasa

Tersadar aku dalam kelam hati
Ternyata begitu banyak yang kuperjuangkan
Hilang
Bagai debu tertiup angin padang

Malam – malam yang biasanya
Penuh dengan gelora,
mengejar yang tak terkejar di siang
Sekarang penuh tangis terpendam

Tersadar dalam pilu
Tergugu dalam bisu
Nalarku berpacu
Melawan jujurnya kenyataan

Ah! Sudahlah!
Kala Sendu pergilah sana!
Menghilanglah di lembah duka!
Biar tinggal diriku tak lagi merana!

Karena kekuatanku bukan dari diriku,
Namun Ia yang ada di dalam aku.

Jakarta, April 2016

Tidak akan pernah puas
Asa
Rasa
Gelora
Manusia

Tidak akan pernah puas.

Meskipun kekenyangan
Perut terasa hendak meledak
Pikiran membuat tengkorak panas
Keinginan menguras tenaga

Tidak, tidak akan pernah puas.

Satu – satu akan rontok
Diterpa sadisnya topan kehidupan
Berdarah – darah menggapai
Apa yang sebetulnya hanya sementara

Tidak, tidak akan pernah puas.

Jalan manusia tiada satupun mengerti
Pikirannya terlalu membuana
Tuhannya pun ia injak
Tahu apa Kau si Esa tentang aku yang fana?

Padahal dirinya hanya debu
Berhembuskan nafas seiprit
Lupakah asalmu?
Ya, tidak, tidak akan pernah puas

… bahkan terhadap yang sia – sia.

Jakarta, April 2016

Sudah jam empat sore,
Aku melambat.
Jenuh hariku,
Waktu berjalan merambat

Sudah jam empat sore,
Sudah duapuluh lima jam berlalu
Dari menit – menit yang kutahu
Akan mendewasakanku.

Sudah jam empat sore,
Waktu melambat.
Ketak – ketik keyboard semakin menganggu
Ingin pulang dan tenggelam dalam hening.

Sudah jam empat sore,
Biasanya waktu ini
Aku akan tersenyum dan berdendang
Karena kamu sudah pulang

Sudah jam empat sore,
Sudahlah….

Pasrahkan semua.

Jakarta, April 2016

Jari jemari bertautan,
Apakah jadi pertanda
Bahwa hubungan
Akan selamanya?

Detak jam dinding
Menertawakan kemudaan kita
Dan meruntuhkan idealisme
Yang telah lama dibangun

Sepoi angin di perjalanan
Memporak porandakan
Setiap mimpi yang susah payah
Meminta dibangun kembali

Aah…
Rasanya begitu lelah…

Hanya satu doa dan pinta
Pada Ia yang Esa
Biarlah semua berjalan
Sesuai kemauanNya

Puncak, Maret 2016